Syarat, Rukun dan Hukum Nikah Siri Menurut Islam

Syarat, Rukun dan Hukum Nikah Siri Menurut Islam

Nikah siri pasti sudah tidak asing lagi ditelinga orang Indonesia, walau banyak stigma negatif yang dikaitkan dengan hal tersebut. Meski demikian, tak sedikit orang yang menjalani nikah siri dengan alasan khusus yang mendasarinya. Sejumlah sumber mengatakan, hukum nikah siri menurut islam dianggap sah apabila memenuhi rukun atau syarat wajibnya.

Bukan hanya sekedar menyatukan dua insan namun juga untuk membina hubungan rumah tangga. Tak main-main, pertanggungjawaban nikah sendiri tak hanya di dunia melainkan juga di akhirat. Lalu bagaimanakah pandangan agama Islam mengenai nikah siri? Simak ulasan berikut:

Hukum Nikah Siri

Berdasarkan hukum Islam, perkara pernikahan dikaitkan erat dengan bidang sosial kemasyarakatan, tidak hanya sebatas memenuhi rukunnya. Seringkali hal ini menjadi kontroversi sebab tidak sesuai dengan standar norma maupun etika yang diberlakukan masyarakat. Seperti yang diketahui, ajaran agama Islam memang lebih menekankan pada akhlak atau etika.

Baca Juga »  Mari Tingkatkan Iman Dengan Mengetahui Cara Menghilangkan Rasa Jenuh Menurut Islam

Sematara itu, Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan pernikahan siri kepada umatnya. Oleh karena itu, tauladan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kehidupan, umat muslim sudah seharusnya mengikutinya. Dalam Al-Qur’an juga tak pernah menyebutkan akan pernikahan yang digelar secara tersembunyi ini.

Penuhi Rukunnya Baru Bertindak

Pernikahan yang seringkali disama artikan nikah dengan sembunyi-sembunyi sebab belum terdaftarkan secara resmi di lembaga agama negara. Ketetapan islam menganggap nikah siri sah apabila calon mempelai telah melengkapi sepenuhnya rukun nikah meski mengesampingkan keresmiannya. Berikut ini syarat wajib yang harus dipenuhi dari kedua mempelai agar pernikahannya sah dalam agama:

1. Ada Calon Suami

Bagi calon suami agar secara hukum nikah siri menurut islam sah yakni lelaki harus beragama Islam serta dipastikan bukan seorang transgender. Sebagai mempelai pria juga harus memastikan calon istri bukan salah satu dari mahramnya. Hal yang terpenting ialah tidak menikah siri saat ihram atau umrah sesuai hukum islam.

Baca Juga »  Sempurnakan Ibadah Dengan Mengetahui Cara Mandi Junub Yang Benar Menurut Islam

2. Ada Calon Istri

Seperti halnya mempelai pria, sang calon istri juga harus beragama Islam serta bukan seorang transgender. Adapun pengantin wanita tidak menjadi istri orang lain atau yang sedang menjalani masa iddah pasca suami sebelumnya meninggal. Selain itu, sang calon suami juga bukan salah satu mahram dari dirinya sendiri.

3. Wali Nikah Calon Pengantin Wanita

Seorang gadis yang telah baligh atau dewasa serta akan menikah memiliki hak untuk meminta ayah kandung menjadi wali nikahnya. Begitu pula dengan ayahnya yang berkewajiban menjadi wali anak gadisnya yang telah siap menikah. Apabila seorang ayah tidak mau menjadi wali nikah maka dapat diganti dengan mengajukan permohonan ke pengadilan agama.

4. Saksi Nikah

Pernikahan akan dinilai sah berdasarkan keputusan dari kedua saksi yang menyaksikan langsung prosesi akad. Adapun ketetapan untuk saksi yakni seorang lelaki muslim, aqil baligh, mampu bersikap adil, bukan tuna rungu atau mengidap gangguan ingatan.  Kesaksian dari dua orang saksi ini menjadi penentu pernikahan dikatakan sah atau tidak.

Baca Juga »  Mengenal Manfaat Puasa Weton Untuk Diri Sendiri

5. Dilangsungkan Ijab Kabul

Ijab Kabul merupakan serangkaian ijab yang diucap seorang wali, sementara Kabul yang diucap oleh pengantin lelaki di hadapan dua orang saksi secara langsung. Kerap kali disebut juga akad nikah menjadi hal yang sangat sacral terutama bagi umat muslim. Bahkan kesakralannya dapat dilihat dari acara yang dilaksanakan dengan penuh hikmad.

Demikianlah ulasan terkait hukum nikah siri menurut islam yang dipandang sah dalam mata agama meski tidak terdaftar resmi. Perlu ditekankan bahwa semua rukun nikah wajib dilakukan baik untuk nikah siri ataupun nikah resmi. Namun, tetap lebih baik jika menikah secara legal dimata hukum dan tidak menimbulkan polemic negatif masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.